Tampilkan postingan dengan label laki-laki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label laki-laki. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 September 2009

Satu sisi egois

Di majalah Femina (edisi 5-11 September 2009) yang aku baca pagi ini diiringi lagu Mahadewi milik Padi, di salah satu lembarnya tertulis tentang ulah wanita yang menyebalkan di depan umum bagi pasangannya; 47 % pria mengatakan dandan terus menerus serasa mau pemotretan, 27 % pria mengatakan ngaca terus serasa gak pede, 15 % mengatakan ketawa ngakak dengan volume keras, 11 % nya lagi mengatakan menudingkan jari telunjuk ke dirinya apalagi mukanya.

Hmmm buat kamu-kamu yang pria, bener gak sih guys? Apakah empat poin diatas berlaku untuk semua pria coz aku juga pernah bertemu dengan pria yang sangat sering komentar dengan penampilan pasangannya; lipstiknya kurang baguslah, bedaknya kurang tebal, pakaian kurang gayalah. Buat kamu-kamu yang perempuan, ini ilmu girls, pelajari dan pahami okeh. Mungkin suatu hari kita akan mengaplikasikan ini.

Tapi… niat aku bikin tulisan kali ini bukan untuk memperlihatkan hasil polling itu doang. Aku mau komentar sedikit tentang hasil itu, jika terkesan seperti pembelaan dari kaum Hawa, silahkan saja, anda punya hak untuk berpendapat. Data diatas itu memperlihatkan… kesannya… perempuan itu mahluk yang gak percaya diri yah. Mungkin memang ada perempuan’’ yang tidak percaya diri dengan kehidupannya, tapi masalah pede itu bukan hanya milik kaum Hawa, kaum Adam pun banyak yang memiliki masalah ini. Silahkan anda jujur pada diri anda sendiri, sudah pedekah anda dengan kehidupan anda?

Toh jika hasil yang didapat memperlihatkan banyak perempuan yang menghabiskan waktu (ketika jalan bersama pasangannya) dengan dandan dan ngaca, jika itu berlebihan, aku sangat sependapat dengan kaum Adam. Sesuatu hal yang berlebihan itu tak akan pernah berujung baik. Tapi tolong dibedakan antara (1) tidak dandan sama sekali, (2) dandan yang natural aja dan (3) dandan yang lebay alias pesolek. Jika aku harus memilih, aku memilih yang kedua. Tuhan kan suka keindahan dan mahluk bumi pun suka dengan yang indah-indah. Perempuan itu kudu dandan donk asal jangan lebay, kita berdandan bukan berarti kita kecentilan, tapi dalam rangka menjaga anugrah Tuhan berupa raga yang luar biasa ini. Jika frekuensi anda ke salon itu satu bulan sekali atau lebih dari satu bulan sekali, ini dikatakan masih natural. Tapi jika frekuensi ke salon di bawah seminggu, ini perlu ada evaluasi, rada lebay deh kayaknya. Kecuali jika anda bekerja di salon atau pemilik salonnya. Heee ^^

Sekarang… coba geser sedikit pandangan anda dengan pertanyaan “bagaimanakah sikap sang pria kepada pasangannya itu?”. Jika pria selalu memberi komentar negatif kepada pasanganya; “kamu kurang cantik”, “kamu kurang putih”, “kamu kurang dewasa”. Perhatikan yang digarisbawahi, kata selalu. Memang, disudut sana ada karakter Adam yang mencela pasangannya untuk menaikkan mental pasangannya agar menjadi pribadi yang lebih baik (seperti tatib ospek yang mencela maba agar mereka menjadi pribadi yang lebih dewasa). Tapi, jangan pernah salahkan wanita sepenuhnya ketika mereka mewujud menjadi mahluk pesolek ketika anda selalu menuntut dan memberi komentar negatif tentang diri mereka.

Perempuan itu akan melakukan apapun untuk orang yang mereka cintai dan sayangi. Perempuan manapun pasti ingin terlihat sempurna di mata pasangannya, mereka akan melakukan apapun untuk terlihat sempurna walaupun mereka sadar tak ada manusia sempurna. Tak ada satu pun perempuan yang ingin membuat malu orang tersayangnya, perempuan mana pun pasti ingin pasangannya bangga karena memilikinya. Ketika pasangannya selalu menilai dirinya tak cantik, kaum Hawa akan benar-benar menganggap diri mereka tak cantik, perempuan itu suka mengeneralisir masalah. Satu hal perlu diingat, kata cantik itu amat sangat penting dan bernilai dalam kehidupan kaum Hawa.

Satu sisi yang egois jika kita hanya menyalahkan wanita dengan menjamurnya wanita pesolek di bumi ini. Bukankah jika dirunut lebih dalam, kaum Hawa melakukan ini untuk kaum Adam juga. Merasa dicintai dan dihargai adalah kebutuhan yang penting bagi kaum Hawa, perempuan akan merasa bahagia jika dua hal ini telah mereka miliki walau mungkin secara materi duniawi belum mapan.

Jadi… jika anda ingin pasangan anda pede dengan dirinya, jangan selalu berikan mereka komentar negatif. Jika pun anda ingin sedikit meluruskan mereka, sampaikan kritik anda dengan detail dan sampaikan dengan nada bersahabat. Komentar negatif dengan kritik itu dua hal yang berbeda aku pikir. Misalkan anda tidak suka dengan pasangan anda yang sering bersolek di depan umum, anda (pria) bisa memberi mereka sedikit pujian bahwa mereka sudah cantik tanpa dandan berlebihan. Ingat !!! sedikit saja beri kaum Hawa pujian, jangan terlalu banyak karena itu akan makin menumpulkan otak mereka dan membesarkan ego mereka.

Bersikaplah sedikit santai kepada pasangan anda, jangan terlalu banyak menuntut mereka karena mau anda percayai atau tidak, perempuan akan memenuhi semua tuntutan orang yang mereka cintai dan sayangi sekalipun itu dilakukan setengah mati hidupnya. Jangan menuntut yang sempurna jika anda pun tak bisa memberikan yang sempurna. Kecuali jika anda adalah pria metroseksual yang sangat menjunjung tinggi penampilan. Prianya lebih mulus dari wanitanya, timpang sekali yah. Tak nyaman dan tak tenang jika pasangannya tak tampil modis. Tapi itulah warna kehidupan jaman sekarang, kemulusan fisik dan salon bukan saja milik kaum wanita, tapi milik kaum pria juga.

Terimakasih udah baca tulisanku, sampai bertemu di posting selanjutnya ^^

Kamis, 06 Agustus 2009

3 hipotesis

Hai guys...

Semoga kalian semua selalu bersemangat setiap hari ^^

Tulisan ini terinspirasi dari hipotesisnya Dimas tentang dunia laki’’. Dia bilang, kalo laki’’ gak mau di tolak ama cewek, dia harus mempertebal dua bagian, yang pertama dompet dan yang kedua otak. Hmmm aku pikir’’ betul juga. Cewek mana yang rela menolak pinangan laki’’ mapan dan cerdas apalagi kalo ditambah sholeh. Mantap deh !!! Jujur deh kaum Hawa, walaupun tampang pas’’an, kalo ada laki’’ punya dua hal itu plus sholeh pula, pasti kita mikir beberapa kali untuk menolaknya. Dan jujur aja deh kaum Adam, kalian juga pasti pengen menjadi sosok yang seperti itu bukan.Heee...

Buat kaum Adam, aku kasih jawabannya yah. Ada satu hal yang menjadi benang merah dari kata cerdas, mapan dan sholeh diatas. Satu kata itu kharisma (bukan merk motor) brand image kalo bahasa kerennya. Walau tampang gak seganteng Uli Herdinasyah (Gak apa’’ ya aku pake nama ini. Hehehe) atau gak setajir Anindya Bakrie (Hmmm), kalo memiliki kharisma pasti memiliki sesuatu yang bisa membuat dirinya terlihat menarik, baik di mata sesama Adam maupun di mata Hawa. Dan guys... yang namanya kharisma itu bukan produk instan, jadi satu hari satu malem. Kharisma adalah produk hasil dari pembangunan citra diri yang konsisten. Orang yang berkharisma akan selalu memiliki catatan khusus di mata orang yang pernah berinteraksi dengannya.

Nah... kalo Dimas punya hipotesis kayak githu, aku juga punya hipotesis tentang dunia perempuan. Kalo cewek gak mau di reject atau ingin menjadi yang terpilih, perbaguslah di tiga bagian; hati, otak dan raga. Hati yang baik akan melahirkan kebijaksanaan (cowok mana sih yang bakal nolak cewek bijak), otak yang baik akan melahirkan cewek yang cerdas (yang gak gampang di tipeng) dan raga yang terawat akan melahirkan perempuan yang cantik.

Girls... jangan terpaku pada satu poin saja. Hati, otak dan raga itu saling berkaitan satu sama lain, saling membangun satu dengan yang lainnya. Jika kita terpaku hanya pada satu sisi saja, raga misalkan. Yakin deh... kita bakal jadi budak produk kosmetik dan bakal terkena sindrom shopaholic. Oleh karena itu, mempercantik diri itu bukan hanya berbicara tentang salon dan mall (karena aku juga perempuan, aku tau bahagianya berada di salon dan belanja di mall. Hehehe^^). Tapi ada dua bagian lagi yang jangan sampai dilupakan, yaitu hati dan otak. Ngaji, cari ilmu setinggi’’nya dan gali potensi sedalam’’nya. It’s the way girls. Kita ini calon ibu bangsa yang akan melahirkan anak’’ bangsa. Tentu, ibu bangsa yang bijaksana, cerdas dan cantik akan melahirkan anak’’ bangsa yang berkualitas nantinya.

Ngomong’’ tentang reject, aku mau bahas tentang satu kata ini. Reject itu kan kalo di dunia industri diartikan sebagai produk gagal yang gak layak dipasarkan. Kalaupun di jual, harganya miring banget. Hmmm aku mau kasih pandangan lain tentang kata reject ini. Kalo aku, kamu dan kita pernah mengalami pe-reject-an, so what guys? Reject dalam pemikiran dan pandangan aku adalah sebuah kondisi dimana sesuatu tidak sesuai dengan standar seseorang. Belibet ya definisinya? Intinya ada di kata tidak sesuai standar. Tapi, sesuatu itu tidak sesuai standar, bukan berarti sesuatu itu lebih baik atau lebih buruk.

Karena diatas aku bicara tentang dunia laki’’ dan perempuan. Aku pengen menyambungkan kata reject ini dengan kaum yang ditakdirkan berpasangan ini. Jika ada laki’’ yang ditolak lamarannya atau ada perempuan yang tiba’’ diputusin (sebenarnya kondisinya bisa berbalik, tapi pada umumnya seperti ini). Ditolak dan diputusin itu kan masih dalam naungan di reject. Jika aku, kamu dan kita pernah di reject, bukan berarti kita lebih buruk dari seseorang tersebut. Belum tentu juga orang yang mereject kita jauh lebih baik dari kita yang di reject, bisa jadi kitanya yang terlalu kebagusan. Tak ada yang mutlak di dunia ini cuy, semuanya amat sangat serba relatif. Baik dan buruk itu relatif, orang sebaik apapun tetap harus menyediakan sedikit ruang untuk di benci karena kita gak akan pernah bisa bikin semua orang senang dengan kita.

Setiap individu itu memiliki standarnya masing’’. Bahagia, pekerjaan, kebutuhan hidup, termasuk pasangan hidup. Setiap individu memiliki standarnya masing’’ yang tak sama satu dengan lainnya. Seseorang yang menerapkan standar, bukan berarti dia sombong. Kita ambil contoh saja standar pasangan hidup. Setiap individu pasti memiliki kriteria pasangan hidupnya, kalo ada yang gak punya, berarti belum siap nikah. Jangan bilang mau menikah kalo belum punya standar pasangan hidup. Jangan bilang sudah matang, kalo gak tau orang seperti apa yang kita butuhkan untuk menjadi teman hidup kita. Seseorang yang menerapkan standar pasangan hidupnya, bukan berarti dia sombong atau sok’ kecakepan. Bukan githu say. Tapi gak lebih karena dia tau orang seperti apa yang dia butuhkan untuk mendampingi dirinya.

Tulisan aku ini, tidak mengartikan bahwa aku sudah menjadi sosok ideal yang berkharisma atau sudah menjadi perempuan yang bijak, cerdas dan cantik. Sama sekali belum. Tepatnya, aku sedang balajar menjadi seperti itu. Gak tau kapan aku bisa mencapai sosok seperti itu. Aku tidak mau terjebak pada nilai dari sebuah hasil, malahan yang harus lebih diperhatikan adalah prosesnya, karena hasil adalah perwujudan dari rentetan proses, yang tentunya tidak sebentar. Disini aku hanya ingin sharing tentang pemikiran dan pandanganku. Thanks buat kamu’’ yang udah baca tulisan ini. See you next posting guys... ^_^


Thanks buat sahabat’’ku Dimas, Cevi dan Luhur. Obrolan yang mengagumkan, jadi nambah ilmu banget. Tulisan ini lahir setelah ngobrol’’ banyak bersama kalian. Walaupun aku yakin, banyak hal yang belum terbuka dan masih menjadi rahasia. Heee ^_^