Selasa, 19 Oktober 2010

Seribu pintu maaf

Siapa yang percaya bahwa hati perempuan itu memiliki seribu pintu maaf ? Saya percaya. Nyatanya memang banyak perempuan di sekitarku yang tetap sabar menghadapi kesalahan orang-orang yang mereka sayangi. Suami mereka, anak mereka atau bahkan orang tua & mertua mereka.

Pernikahan tidak hanya berbicara tentang manisnya cinta saja, pernikahan pun sarat dengan perjuangan hidup. Tentu saja, karena pernikahan adalah janji suci dua orang manusia, laki-laki dan perempuan yang berasal dari keluarga dengan latar belakang yang berbeda. Pernikahan bukan hanya penyatuan dua anak manusia yang saling mencintai juga penyatuan dua keluarga. Sulit. Tentu. Bukanlah sebuah hal yang mudah menyatukan dua anak manusia apalagi dua keluarga.

Hidup bertahun-tahun dengan orang yang sama bukan pula perkara yang ringan. Ketika jenuh melanda, pernahkah perempuan mengeluh. Ketika suaminya memiliki wanita idaman lain, apakah hilang cinta dari hatinya untuk sang suami, ketika suaminya tak membela dirinya di depan mertuanya, apakah cinta itu berganti benci. Tentu jawabnya iya, jika logika ini yang menjawab. Namun ajaibnya ternyata cinta seorang istri untuk suaminya tak pernah berkurang sedikitpun walaupun ia telah disakiti, dikecewakan dan dibohongi berkali-kali.

Ketika seorang perempuan mendapati suaminya memiliki wanita idaman lain. Hatinya tersakiti, harga dirinya hancur. Mungkin dia akan marah-marah di depan suaminya bahkan mungkin ada yang sampai menggugat cerai. Namun, di belakang suaminya, ketika dia seorang diri, dia akan menangis sejadi-jadinya. Bukan menangisi suami mereka yang tak setia, namun menangisi ketidakmampuan mereka menjaga suaminya. Alhasil mereka menjadi rendah diri. Ada sebongkah kekecewaan, kepada suaminya tentu saja, namun sebenarnya kekecewaan terbesar mereka adalah kecewa terhadap diri mereka sendiri. Harga dirinya sebagai perempuan hancur karena suami mereka telah berpindah ke lain hati. Mereka berpikir bahwa mereka tak becus menjadi istri, dirinya sudah tak menarik lagi, dirinya membosankan sebagai teman hidup.

Apakah rasa sayang untuk sang suami hilang. Jika logika berkata, ingkar janji harusnya di balas dengan ingkar janji. Namun ternyata tidak. Sang istri tidak membalas pengingkaran janji suci sang suami, ia hanya bisa menangis dan bersujud pada Tuhan dengan pengharapan suaminya segera tersadar dan kembali ke pelukannya. Balas dendamkah perempuan ini? Sekali lagi aku katakan tidak. Ia tetap menjalakan tugasnya sebagai istri, melayani dan mematuhi suami. Hilangkah cinta itu? Sayang kepada suaminya jauh lebih besar daripada kecewa dan sakit hati yang diterimanya. Sayang kepada suaminya meleburkan kecewa dan sakit hatinya. Ajaib sekali hati perempuan, hampir tak memiliki batas.

Jika perempuan tak memiliki seribu pintu maaf, akan banyak anak manusia yang memiliki ayah tiri. Jika perempuan membuat kesalahan besar, jarang laki-laki yang membukakan pintu maaf untuk sang perempuan, kaum Adam langsung menggugat cerai istrinya. Lupa bahwa jika dirinya yang berbuat kesalahan, sang istri membuka seribu pintu maaf hatinya. (Kecuali suaminya Cut Tari Hehehe ^^ Kagum saya dengan beliau).

Ketika sang perempuan menerima kekecewaan dari anaknya, berkurangkah cinta untuk sang buah hati? Sama sekali tidak. Sehancur apapun anaknya, senakal apapun anaknya, bahkan ketika anaknya terlahir cacat pun, cinta seorang ibu untuk anaknya tak akan pernah berkurang sedikitpun.

Menikah dengan restu saja kadang ada masalah, apalagi menikah tanpa restu. Masalah kecil menjadi besar, masalah yang tak perlu ada dimunculkan, bahkan diisolir dari kehidupan keluarga besar sang suami. Ketika dirinya menerima perlakuan tak enak dari mertua. Pernahkah sang perempuan menghilangkan rasa hormat pada orang tua sang kekasih hati? Tidak, karena ia tahu mereka pun adalah orang tuanya. Belahan jiwanya terlahir dari rahim dan benih ayah dan ibu mertua.

Perempuan… perempuan… anugrah sabar yang diberikan Tuhan pada kaum Hawa ini begitu dahsyat, logika ini tak bisa menangkap batas sabar yang dimiliki hati seorang perempuan. Perempuan itu memiliki seribu pintu maaf di hatinya, walaupun orang-orang yang mereka sayangi telah menyakitinya berkali-kali, cinta dan sayangnya lebih besar dari kecewa dan sakit hati yang diterimanya.

Mungkin perempuan dengan seribu pintu maaf seperti dalam tulisan ini sudah langka untuk di temui atau bahkan mungkin tak ada di dunia ini menurut anda. Tapi nyatanya, saya pernah bertemu dengan perempuan ini. Tuhan masih menganugrahkan banyak perempuan sepertinya untuk mendampingi dunia ini. Ah sahabat, hmmm mungkin terkesan omdo ya saya bicara tentang memaafkan pun tentang pernikahan. Tentang kata maaf, saya masih belajar tentang ini. Sungguh, saya masih belajar tentang mengikhlaskan sebuah sakit hati dengan hanya memaafkan. Saya masih terus belajar dan belajar untuk ini. Tentang pernikahan, layakkah seorang perempuan lajang seperti saya ini bicara tentang pernikahan? Hahaha :) bukannya saya sok tau, tapi ini secuil sari pati yang dapat di tangkap oleh nurani saya tentang pernikahan itu sendiri. Meski cinta saya pernah di buang, di tolak & disepelekan. Saya masih memiliki keyakinan bahwa ada laki-laki baik yang akan datang & saya temani hidupnya. Laki-laki dengan cita-cita besar dalam hidupnya. Someone special waiting for me out there, I’ll keep my praying …

Tidak ada komentar:

Posting Komentar