Selasa, 19 Oktober 2010

Ruang untuk kita

Halo sahabat-sahabatku, lama sekali saya tak menyapa kalian semua.

Sahabat, hidup adalah perjalanan dari sebuah pengenalan. Pengenalan atas diri kita sendiri, atas orang lain dan atas kehidupan ini.
Tak ada manusia yang betul-betul mengenal dirinya selain Tuhan-Nya, yang menciptakannya.
Yakinkah kita bahwa kita telah betul-betul mengenal diri kita dengan baik?
Yakinkah kita bahwa kita telah betul-betul mengenal pasangan kita dengan baik?
Yakinkah kita bahwa kita telah betul-betul mengenal sahabat kita dengan baik?

Sekalipun anaknya, tak ada orang tua yang betul-betul mengenal anaknya dengan baik. Kahlil Gibran pernah bersyair bahwa anak-anakmu bukanlah anak-anakmu, mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu. Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu. Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuhnya tapi bukan jiwa mereka.
Sekalipun sahabat, tak ada manusia yang betul-betul mengenal sahabatnya. Sekalipun dia kekasihmu yang telah bertahun-tahun bersama, tak ada yang betul-betul mengenal pasangannya.

Manusia itu mahluk yang rumit, maha besar Tuhan yang telah menciptakan mahluk serumit manusia. Saya yakin ilmu memperlajari manusia itu tak akan pernah padam untuk digali karena memang mahluk bernama manusia sangat sulit untuk menemukan limit keajaibannya.

Tak ada manusia yang benar-benar sama di dunia ini, sekalipun dia kembari dentik, pasti akan selalu ada perbedaan diantara mereka. Maka, menjadi sebuah hal yang wajar jika ketidakcocokan terjadi dalam kehidupan ini. Manusia dilahirkan dengan jiwa & keunikannya masing-masing, namun fitrah hidup seorang manusia tak akan mampu hidup dalam kesendirian. Oleh karena itu Tuhan hadirkan kawan, sahabat, kekasih & keluarga untuk membuat manusia benar-benar menjadi rahmat semesta alam.Maka, janganlah terlalu alergi pada ketidakcocokan yang kita rasakan dengan orang di sekitar kita, karena jika kau mencari manusia yang 100 % cocok denganmu, sampai kapanpun kau tak akan pernah menemukannya.

Sediakanlah ruang toleransi dalam hidupmu, dimana perbedaan-perbedaan yang terjadi antara kita dan orang lain masih bisa di bicarakan dengan hati serta pikiran terbuka. Dalam hidup ini tentu setiap manusia memiliki ruang prinsip yang tak bisa di ganggu gugat oleh siapapun dan setiap jiwa memiliki ruang prinsip yang berbeda-beda. Namun, jangan pernah kau buat ruang jiwamu itu sebagai ruang prinsip seluruhnya karena jika kau format seluruh jiwamu dengan ruang prinsip kau akan menjadi pribadi yang tak bisa menerima perbedaan. Sediakanlah ruang toleransi dalam jiwamu dimana semua hal masih bisa berubah & tidak kaku (saklek).

5 tahun masa kuliah saya akhiri dengan sangat puas. Bukan karena saya diwisuda 'dengan pujian', tapi di 5 tahun itulah saya benar-benar mencari jati diri, warna jiwa saya. Banyak pemikiran saya hinggapi & saya pelajari,hingga pada waktunya saya tahu mana yang terbaik untuk saya, apa warna jiwa saya. Tahukah kawan, ini betul-betul sebuah perjalanan yang menakjubkan. Bermain bersama seribu pilihan pemikiran, belajar berani untuk bercita-cita besar, menghargai dan menghormati perbedaan serta memasuki labirin pencarian jati diri yang memusingkan. Itu semua sangat-sangat menakjubkan bagi saya. Lalu apakah saya sudah benar-benar mengenal diri saya sendiri? Belum saya pikir karena terkadang saya masih sulit untuk mengatur dinamika ambisi diri, itu pertanda saya belum mengenal diri saya dengan baik. Tapi saya tak terlalu khawatir, ada yang amat sangat mengenal saya lebih dari saya sendiri, dia adalah Tuhan saya. Dia yang tahu dengan baik bahwa ketika saya berani bermimpi besar, Dia akan menempa saya dengan ujian lebih besar pula. Bukan karena Dia tak sayang padaku, tapi karena Dia ingin saya menjadi lebih kuat terlebih dahulu sebelum Dia mengabulkan inginku.

Tak ada jaminan persahabatan selama 5 tahun menjadi sebuah keyakinan bahwa kau telah mengenalnya. Bahkan pernikahan yang telah berlangsung selama 25 tahun pun tidak menjamin istri benar-benar mengenal suaminya, begitu sebaliknya. Namun,hidup adalah perjalanan dari sebuah pengenalan. Sebelum menikah, kita mengenal pasangan kita sebagai kekasih. Ketika sudah menikah, kita mengenal pasangan kita sebagai suami / istri, tentu banyak hal yang akan bertambah & berubah. Ketika sudah memiliki anak, kita akan mengenal pasangan kita sebagai ayah /ibu, tentu akan lebih banyak lagi hal yang bertambah & berubah juga. Perjalanan jiwa dalam hidup adalah perjalanan spiritual dan yang namanya perjalanan spiritual itu tak akan pernah stay di satu titik, dia akan terus bergerak & berubah. Dari kekasih lalu menjadi istri / suami kemudian menjadi ayah / ibu dan kelak menjadi kakek / nenek. Itu semua adalah peran yang akan kita jalankan di dunia ini. Tentu di balik itu ada tanggung jawab yang tersimpan dimasing-masing peran. Dalam perjalanan peran –peran itu akan banyak dinamika kehidupan yang terjadi. Bumi ini tak datar, begitu pun hidup, tak ada kehidupanyang datar-datar saja, akan ada lubang yang membuatmu tersandung, akan gunung yang harus kau daki dengan susah payah, bahkan akan ada kulit pisang yang bisa membuatmu terpeleset jatuh *_*. Ada banyak hal di dunia ini yang akan membuat hidup ini terus berputar dinamis.

Sahabat, ketidakcocokan adalah sebuah hal yang wajar karena tak ada manusia yang benar-benar sama di dunia ini. Maka, mulai saat ini janganlah memusuhi ketidakcocokan, sediakanlah ruang toleransi dalam jiwamu. Ruang toleransi yang bukan hanya diisi olehmu, tapi diisi oleh semua orang yang hadir dalam hidupmu. Karena ruang itu kau hadirkan bukan saja untukmu, tapi untuk kita.

Terimakasih telah membaca tulisan saya, sampai bertemu di catatan selanjutnya ^_^
Leni Maryani

Tidak ada komentar:

Posting Komentar