Sabtu, 01 Agustus 2009

Cahaya asa

Hallo semua...

Salam semangat buat generasi pantang menyerah di negeri ini

Pagi ini, aku ngerasa seperti menjadi manusia yang baru. Sehabis meditasi, ini aku lakukan kalo lagi penat banget. Dan pagi ini... walopun lagi gak penat, aku melakukan meditasi. Moga ini bisa konsisten ku lakuin tiap pagi. Pengennya sih ngambil kelas yoga lagi, tapi... tempat nya jauh benge, di Dago. Sedangkan home range sekarang masih berputer’’ di Jatinangor dan Baleendah nan permai.

Gara’’ ngobrol ringan di pagi hari ama si Aip ginong binti babeh Yahya sambil melihat video cahaya asa, Pagi ini juga aku mendapat inspirasi tentang cahaya asa. Dalam iklan cahaya asa, iklan yang dibuat oleh Djarum untuk tahun baru 2007. Semua model utamanya adalah perempuan. Disana, tokoh utama (perempuan) melakukan hal yang (hampir) telah dilupakan oleh perempuan Indonesia saat ini. Disana, ditampilkan perempuan sedang menampi beras, menumbuk padi di lesung dan bermain dengan anak’’nya. Namun disini pun ditampilkan perempuan yang tangguh nan anggun. Aku melihat bahwa cahaya asa itu adalah perwujudan perempuan Indonesia yang seharusnya.

Aku tidak sedang berbicara bahwa perempuan Indonesia saat ini masih harus menampi beras atau menumbuk padi di lesung. Saat ini kan semuanya serba gampang, jika bisa mudah tak perlu dipersulit juga. Aku lebih melihat hakekatnya. Di jaman sekarang, tidak sedikit perempuan yang lupa dengan perannya, malah bersibuk ria menggaungkan persamaan laki’’ dan perempuan. Perempuan dan laki’’ dilahirkan berbeda, jadi biarkan saja berbeda. Perempuan dan laki-laki itu untuk saling melengkapi bukan untuk saling bersaing. Aku sepakat perempuan tidak boleh terlihat lemah dan diperlakukan semena-mena, karena perempuan dilahirkan sebagai mahluk merdeka nan lembut. Aku sepakat, perempuan Indonesia gak boleh tertinggal dengan kemajuan kaum Adam dan juga tak boleh tertinggal dengan kemajuan kaum Hawa di penjuru dunia ini. Aku sepakat banget, Karena aku juga pengen perempuan negeri ini bisa berdiri diatas dua kakinya sendiri gak bergantung pada kaum Adam. Namun, aku juga pengen perempuan Indonesia gak lupa dengan tugas dan perannya dalam kehidupan ini.

Kita (perempuan) itu mahluk merdeka. Namun, bukan berarti perempuan begitu bebasnya mengekpresikan diri tanpa melihat jati dirinya sebagai perempuan. Semisal perempuan yang gila kerja di luar rumah, namun melupakan perannya di dalam rumah. Alhasil sukses di luar namun gagal di dalam. Seperti mercusuar, terang benderang dari kejauhan, namun berkarat dari dekat. Memang, tidak semuanya seperti ini. Namun, tidak sedikit yang seperti ini kawan. Tidak sedikit perempuan yang menyerahkan urusan anak’’nya kepada baby sister atau menyerahkan semua urusan rumah tangga kepada pembantu. Bunda... peran ibu itu tak akan pernah bisa tergantikan oleh pembantu. Bukankah pembantu dan baby sister itu hanya untuk membantu bukan untuk menggantikan. Seenak-enaknya makanan di luar rumah, tetep aja... makanan terenak bagi anak adalah makanan buatan koki kesayangannya, masakan hasil karya bunda nya.

Karena kita (perempuan) adalah mahluk merdeka. Jangan pernah menjadi lemah karena dinamika hidup yang begitu dahsyat. Bukankah semakin tinggi pohon, semakin kencang angin yang menerpa. Semakin naik kelas, semakin sulit soal ujiannya. Karena kita (perempuan) adalah mahluk merdeka, jangan pernah diam saja ketika kita di perlakukan semena-mena oleh siapa pun dan dimanapun. Tak ada yang berhak merenggut kemerdekaan itu dari kita. Karena kita (perempuan) adalah mahluk merdeka, tuks kita menjadi perempuan seutuhnya, jangan setengah-setengah.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar